Selamat Jalan Bapak BJ Habibie

Screen capture dari berita kompas.com tentang Pak BJ Habibie


Innalilahi wa innailaihi rojiun. Gue dengar pertama kali tentang kabar kepergian beliau dari radio Prambors di sore hari pulang dari rumah sakit. Gue setengah gak percaya, dimana salah satu sosok tokoh idola gue pergi untuk selama lamanya. Tapi yawislah kalau memang sudah waktunya.

Gue tahu tentang BJ Habibie pertama kali dari kakak gue yang penggemar ilmu science dan teknologi. Awalnya sih gue mikir, ini orang kayaknya orang yang lempeng dalam kabinet di masa era Soeharto waktu itu, dan gak banyak neko-neko kayak menteri lainnya. Jadi gue pun semasa SD mengidolakan beliau.

Sampai suatu hari di ruang kelas. Sekitaran tahun 1991-1992. Gue masih kelas 5-6 SD. Sebelum masa kejatuhan era Soeharto. Guru gue Pak Ganda dari SDN 01 Cempaka Putih Barat Jakarta Pusat bertanya kepada seluruh siswa SD di kelas kami. "Siapa kira kira penganti Bapak Presiden Soeharto?", begitu pertanyaan guru gue. Kami dibikin semacam survey analisa kecil ala-ala anak SD gitulah. 

Semua anak boleh punya pilihan masing-masing. Tapi karena semua mikir bahwa Soeharto lebih sering menonjolkan diri bersama Try Soetrisno di media maka sebagian besar anak SD di kelas gue itu pun memilih Try Soetrisno yang bakal menjadi calon presiden RI berikutnya. Bahkan mereka yang memilih diantaranya adalah anak-anak yang pintar dan punya ranking bagus di kelas gue. Mereka kayak pokoknya Try Soetrisno, ga peduli siapa itu Try Soetrisno pokoknya dia.

Tapi tidak dengan gue dan Sila. Walau Try Soetrisno sudah jadi wakil presiden. Kami memilih BJ Habibie sebagai calon presiden RI berikutnya. Sila memilih BJ Habibie sebagai calon presiden RI berikutnya karena Sila merasa sebagai salah satu orang yang berdarah sulawesi maka dia perlu memilih orang yang berasal dari daerah yang sama dengan keluarga besarnya. Sila ini katanya sih termasuk keluarga bangsawan dari suku Bugis/ Makassar karena dia punya nama depan yang cukup panjang dan berbeda dari nama kita-kita yang biasa saja ini.

Sementara gue milih BJ Habibie dan gak ikutan sama teman-teman sekelas dengan menyebut nama Try Soetrisno karena gue melihat sosok BJ Habibie orang yang lempeng. Walau gak banyak disorot media kala itu ( ya dibanding yang laen si BJ Habibie disorot lebih karena beliau pintar, sementara yang laen kan lebih disorot karena hal laen). Tapi kok feeling gue ngerasa kaya ... bukan .. bukan Try Soetrisno yang bakal jadi presiden gantiin Soeharto tapi BJ Habibie. Mo mereka ngomong apa kek, bukan Try Soetrisno tapi BJ Habibie. Begitu yang gue rasain.

Pilihan gue sempat membuat bingung beberapa orang teman karena gue dianggap gak sepaham. Mereka memandang gue aneh. Tapi gapapa gue tahu pilihan gue ini bakal gak disukai sama teman-teman termasuk genk gue sendiri yang semuanya pilih Try Soetrisno. Dan guru gue Pak Ganda bisa menerima pilihan gue BJ Habibie. Walau gue pribadi gak punya hubungan darah atau hubungan apapun atas pemilihan BJ Habibie sebagai the next president of Indonesia. Gak kayak Sila. pun gak kayak mereka yang pilih Try Soetrisno karena diangkat media terus.

Dan suatu hari... lama setelah survey kecil buatan Pak Ganda di ruang kelas itu. Usai ujian SMA sekitar bulan Mei 1997/8, gue bisa ngeliat langsung akhirnya Indonesia mempunyai presiden berikutnya. Dan itu adalah Bapak BJ Habibie. Gue girang setengah mati ya walaupun muka gue tetep lempeng hehe.. tapi senang banget. Walau beliau gak lama menjabat. Tapi tuh kan satu bukti. Kita gak perlu berdarah sama dengan idola kita. Kalau kita suka orang itu karena pengetahuan dan sikapnya maka Allah SWT akan perlihatkan kebaikan.

Dan hari ini. Bapak BJ Habibie dimakamkan (12/09/2019). Sedih.
Selamat jalan Bapak BJ Habibie. Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik.




#selamatjalanbapakBJHabibie
#selamatjalanPakHabibie
#turutberdukacita
#BJhabibie



Comments