Sebuah Rumah Menghadap Ke Pantai Sanur



Bangunan rumah Le Mayeur yang menjadi Museum
Le Mayeur menghadap ke Pantai Sanur, Bali
 ( Foto: Rike)


Jadi setiap gue berenang di pagi atau sore hari, hm.. (tepatnya berendeman di air laut soalnya kadang kalau lagi ombak gede kan gak bisa berenang jadi ya rendeman aja dah bareng bapak-bapak dan Ibu-ibu  juga bocah-bocah kecil di Pantai Sanur) setiap kali juga gue sering banget lewatin tempat ini kalau pulang. Diluar sih tulisannya Museum Le Mayeur. Gue gak tahu dalamnya kayak apa, karena sering aja lupa mampir dan juga sering kali terlalu banyak orang yang lewat kanan kiri. Jadi rada sesek orang yang seleweran dan akhirnya gue gak berhasil lagi mampir kemari. Tapi setelah hampir dua minggu bolak balik ke Pantai ini akhirnya di sebuah hari yang cerah usai berenang di pagi hari. Masuklah gue kedalam bangunan dengan pagar batu mirip candi itu.

Pas masuk gue langsung bisa lihat beberapa bangunan di sisi kanan kiri. Seinget gue Le Mayeur itu seorang pelukis asal Eropa yang tinggal di Bali. Bayar deh gue di tempat pembayaran tiket yang ada di dekat pintu masuk. Gue bayar Rp 25.000 karena gue kan termasuk wisatawan domestik. Nah, kalau wisatawan mancanegara itu pasti bakalan beda kayaknya bayarnya deh.

Pertama masuk ke ruangan ada pengumuman kalau gak boleh ngambil gambar lukisan dengan kamera jadi ya gue kasih gambarannya aja dah ya ( tapi pengumuman ini dibaca atau gak sama pengunjung ga tahu juga pokoknya gue gak foto ruangan dalam museum ye pokoknya ada gadget ga ada gadget kita tetep bisa kok menikmati sebuah keindahan dalam sebuah museum ajieee.. kita kan anak penurutan wkwkwk..).Jadi ruangan pertama bangunan yang gue masuki ini berada di bagian tengah Museum Le Mayeur. Dan yeah bener aja, Le Mayeur ini adalah dia seorang pelukis asal Belgia yang menetap di Sanur, Bali dan menikahi seorang perempuan asal Bali yang bernama Ni Pollok.

Jendela cantik berukir dari kayu
( Foto: Rike)


Katanya sih, semenjak Le Mayeur hidup di Bali inilah nama pulau Bali di kemudian hari terus mendunia. Karena Le Mayeur mempotret kehidupan sehari-hari masyarakat di Pulau Bali melalui lukisannya yang kemudian dikenal di masyarakat luar itu. Hm..Sebenernya kalau dilihat-lihat bangunan yang merupakan eks rumahnya pak pelukis Le Mayeur ini ukurannya gak gede-gede amat kayak vila-vila di kawasan Sanur yang kece-kece di jaman sekarang ini, tapi  gue bisa ngerasain gimana kira-kira rumah ini di masa lalu.

Di depan pintu langsung blas menghadap ke pantai Sanur dengan ombaknya yang berdesir ringan, gak kenceng kayak di Kuta. Angin yang se-po-i  se-po-i , warna air laut yang berlapis dari hijau, biru, biru tua bahkan kadang agak abu-abu kehijauan. Langit yang terang cerah. Kayaknya rumah ini rumah dambaan gue deh kalau gue hidup di masa itu pasti dah tiap hari gue renang di laut haha.. cuman sayangnya saat ini depan rumahnya banyak berdiri tempat nunggu kapal ke Nusa Lembongan dan gili-gili gitu. Jadi ya agak ganggu aja ya pemandangan cantik ini. Tapi yah semoga bisa punya rumah langsung view pantai kayak gini dah.

Loket tiket di dekat pintu masuk
( Foto: Rike)

Patung pasangan Le Mayeur dan Ni Pollok
( Foto: Rike)

Taman di depan rumah Le Mayeur
( Foto: Rike)

Disini gue duduk sebentar lempengin kaki
( Foto: Rike)


Oh iya di bagian depan rumah masih ada tempat duduk dan meja dimana katanya sih itu buat pelukis Le Mayeur atau istrinya menerima tamu-tamu kehormatan termasuk pak Presiden RI Soekarno. Bangunan rumah Le Mayeur ini tadinya milik pribadi-nya kemudian menjadi Museum dan kini dikelola sama salah satu dinas pemerintah setempat. Dengan pintu yang agak minimalis buat ukuran gue, gue tuh kemudian dibuat terpana dengan beberapa detail lukisannya Le Mayeur yang romantis ada bunga-bunga di beberapa lukisannya yang ada di ruangan. Walau sebagian agak udah kabur warnanya, mungkin karena udah lama tapi gue bisa lihat sisa-sisa detail cantik di beberapa bagian lukisan Le Mayeur.

Medianya juga gak melulu pakai canvas kayak pelukis-pelukis lain kadang kayanya semacam bahan anyaman. Dengan warna kecoklatan. Kalau gak salah sih karena kesulitan nyari bahan di masa penjajahan Jepang maka Le Mayeur mengunakan beragam media untuk menciptakan lukisannya itu. Tapi beneran deh udah ngider hampir di setiap bangunan lukisannya itu banyak bunga-bunga diantara gambar orang atau bangunan dalam lukisan Le Mayeur itu walau yah sebagian besar gambar mengambarkan tubuhnya istrinya yang sebagai model lukisan atau fotonya(erhh.. yang bikin iri deh sama bentuk badannya yang bagus itu hiks hiks..)tapi ada juga beberapa lukisan yang ditampilkan di Museum Le Mayeur ini yang mengambarkan suasana di negerinya atau di negeri lain kayak di Afrika atau di negara lain di Eropa, yang mungkin ia datangi sebelum akhirnya menetap di Pulau Bali.Didalam juga masih tersedia dipan/tempat tiduran, lemari dan peti kayu penyimpan barang yang masih tersisa. 



Di bagunan lain yang masih masuk ke dalam bagunan Museum Le Mayeur Sanur ini, ada tempat kayak pendopo tempat duduk duduk, sementara di sisi lain ada sebuah bangunan kalau menurut keterangannya sih itu dulu tempat Le Mayeur dan istri menyimpan benda-benda pusaka untuk sembahyang. Tapi kini jadi semacam kayak aula dan sekali lagi pintu juga imut imut jadi gue dan salah satu turis mancanegara yang berkunjung bersama istrinya hari itu kudu bergantian mau masuk keluar.

Pahatan bunga pada batu..
whuaa cuantik (Foto: Rike)

Ada anggrek ( Foto: Rike)

Bagian depan rumah Le Mayeur
( Foto: Rike)

Dari sisi yang lain ( Foto: Rike)

Geser dikit ( Foto: Rike)

Gerbang depan Museum Le Mayeur
( Foto: Rike)

Nah ini depannya museum Le Mayeur
langsung pantai Sanur
( Foto: Rike)

Papan nama depan Museum
Le Mayeur Sanur Bali
( Foto: Rike)



Di bagian tengah ada patung kepala Le Mayeur dan Ni Pollok istrinya dan sebuah kolam ikan mungil di depan kedua patungnya. Sisi romantis lain selain bangunan adalah tamannya yang dihiasi oleh pohon bunga kamboja dan bunga-bunga seperti anggrek. 

Tapi ya gitu ada juga sebagian dari bangunan yang ada disitu nampak ga terurus, dan sayang banget padahal. Kayak WC-nya yang agak spooky buat gue. Coba kalau WC-nya dirapiin pasti keliatan lebih cantik deh. Dan mungkin juga sirkulasi udara di dalam museum yang agak pengap, yang mungkin bisa dipertimbangkan oleh pihak pengelola untuk pengunjung memperoleh kualitas udara yang lebih baik.

Ohya selain itu disini juga ada warisan Ni Pollok yang tetap ada sampai kini, yaitu Pollok Art shop gitu di salah satu sudutnya. Yang disaat sekarang, Pollok yang bisa diakses lewat jalanan jogging track pantai Sanur ini juga menjual makanan dan minuman ringan loh, jadi kalau haus-haus habis keliling rumah pak dan bu Le Mayeur ini bisa jajan disini. 

Dan setelah keliling Museum Le Mayeur Sanur ini, gue pun duduk ngadem di salah satu sudut pendopo dekat pintu masuk sambil ngeliatin taman di sini sambil ngambil nafas sebentar untuk kemudian jalan lagi keluar dari pantai Sanur untuk menunggu babang gojek buat pulang.



Museum Le Mayeur
Jalan Hangtuah, Sanur, Bali
Tiket tahun 2019:
Rp 25.000 ( Nusantara Dewasa) Rp 10.000 ( Nusantara Anak)
Rp 50.000 ( Mancanegara Dewasa) Rp25.000 ( Mancanegara Anak)
Rp5000 ( Mahasiswa)




Buat baca-baca tentang 
Museum Le Mayeur:


#bali #indonesia #museum #lemayeur #nipollok #seni #art #cinta #love






Comments

Popular posts from this blog

Nasi Liwet on my 38 Birthday