Belajar BIPA di Bali, Yuklah Semangat Yang Militan (2)

Belajar di Edotel Denpasar  ( Foto: Rike)


Holllaaaa... holllaaa...halloo..ya ini sambungannya ya dari tulisan sebelumnya ya. Nah jadi di hari Kamis 13 Desember sampai hari Sabtu 15 Desember 2018 kemarin itu, gue berada di Bali untuk belajar di Apbipa Bali - Denpasar. Apaan sih Apbipa Bali itu? Ya, itu adalah sebuah lembaga yang memberikan pendidikan dan pelayanan terkait dengan bahasa, dimana salah satunya ada pelatihan untuk pengajar/guru Bahasa Indonesia untuk Pengantar Asing (BIPA). Kelas pelatihan diadakan di Edotel Denpasar Bali yang bertempat di SMK Negeri 3 Denpasar, Jalan Tirtanadi dekat pantai Sanur.

Edotel sendiri adalah sebuah tempat penginapan yang dikelola oleh para siswa dari SMK Negeri 3 Denpasar, kayaknya buat semacam tempat latihan kalau nanti kerja di perhotelan ya. Namun begitu, Edotel Denpasar ini tempatnya asri, kayak di rumah-rumah di pedesaan di Bali. Dan dihiasin oleh bunga-bunga anggrek dan kemboja warna warni. Pokoknya berasa nuansa Bali banget dah. Ya emang di Bali juga sih tapi erhh.. arsitektur dan lanskap tamannya ituloh yang bikin suasana jadi lebih syahdu.. eh... beneran kok. Kalau gak percaya mah coba mampir deh sekali-kali atau sekalian nyobain nginap disana. Biar terasa suasana Balinya.

Didalam kelas Pak Riasa
( Foto: Rike)

Yang serius belajar
( Foto: Rike)

Anggrek di Edotel Denpasar
( Foto: Rike)

Anggrek di Edotel Denpasar
( Foto: Rike)



Nah,  balik lagi di pelatihan di level 1 selama 3 hari itu, kita ini belajar dari mulai metodologi cara mengajar Bahasa Indonesia untuk siswa yang berbahasa asing sampai belajar tentang gimana sih nyampain tentang tata bahasa aka grammar dalam Bahasa Indonesia. Semua dibungkus dalam 3 hari. Nah, detailnya tuh kayak gini.

Jadi pas hari-hari awal  kita diajarin gimana cara pengajaran berbicara, pengajaran menyimak, pengajaran membaca, menulis, tata bahasa dan pengajaran kosa kata. Tentu saja ini gak disampaikan dengan cara yang kaku kayak jaman kita pas generasi 90’an belajar dari buku Ini Ibu Budi itu, tapi karena materi ajarnya buat mereka yang berasal dari luar Indonesia jadi ya ada sedikit perbedaan. Gaya penyampaiannya ya gak kayak belajar Ini Budi itu, tapi lebih mengunakan permainan yang lebih menyenangkan, mengunakan metode tim-tim kecil untuk belajar dan beberapa permainan yang menantang siswa untuk mau belajar bahasa Indonesia. Ohya tambahan nih, kita juga diajarkan praktek mengajar siswa BIPA di kelasnya Pak Nyoman Riasa ini. Jadi berasa berada di dalam kelas BIPA beneran hehe.

Mbo Nana dan Mba Ati Serius
( Foto: Rike)


Dari pelatihan ini, gue jadi berefleksi pada diri gue sendiri. Merasa gak enak sendiri heheh... Masih suka menganaktirikan bahasa bangsa sendiri (erh..maafkan daku). Dan itu seharusnya gak boleh selamanya terjadi hehe.. termasuk gimana gue menyampaikan di blog ini.

Selama ini gue masih suka memberikan ruang yang sedikit untuk Bahasa Indonesia gue, bahasa bangsa gue. Bahasa yang lahir dari berbagai unsur yang ada dari berbagai bahasa-bahasa bangsa di dunia. Dari bangsa India yang membawa bahasa sanksekerta sampai bahasa Belanda, bahasa Inggris, bahasa Arab dan bahasa lainnya yang kemudian menjadi Bahasa Indonesia. Ya, semoga ke depan bahasa Indonesia lebih baik sehingga yang dimanapun berada bisa baca juga dalam Bahasa Indonesia yang baik ya. Erh.. atau buka blog baru pakai bahasa Indonesia yang lebih baik ya (soalnya disini udah kadung pakai bahasa campuradukan antara bahasa betawi, bahasa prokem, bahasa gaul dan bahasa lainnya termasuk juga bahasa planet mars hahaha... Cuma ya ini buat blog gue ya kalau ngajar ya gue pun kudu professionallah). Pokoknya rencana mah ada tinggal eksekusinya aja nih Rik’. Hehe..

Beli jagung makan
rame-rame depan pantai
 ( Foto: Rike)

Beli jagung bakar
( Foto: Rike)

Yeayyy...akhirnya dapat sertifikat
( Foto: Rike)

Ohiya, di pelatihan ini gue juga ketemu beberapa orang teman. Dari Mbak Wati dari Batam yang juga sudah mengajar BIPA untuk anak-anak orang asing di Batam, Mbok Nana yang asli Singaraja, yang menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi di Singaraja dan ingin  membuka peluang mengajarkan bahasa Indonesia  juga memperkenalkan pariwisata wilayahnya, Mbak Ati yang baru kelar belajar meditasi di Singaraja dan ingin menjadi guru BIPA, ada juga Ina dari Surabaya yang udah mengajar BIPA pada orang-orang asing lebih dulu, ada juga Qori yang jadi staf di Kementerian dan ingin mengajar BIPA keluar Indonesia, selain itu ada Titi yang juga ingin menjadi guru BIPA.

Di sela-sela mengajar pelatihan. Ada pesan-pesan dari Pak Riasa yang akan selalu gue inget seumur hidup gue. 1) Soal kita promosiin BIPA haruslah lebih militan seperti mereka yang bekerja di bidang multilevel marketing. Soalnya siapa lagi juga yang mau promosiin bahasa Indonesia kita kalau bukan kita sendiri yang mau untuk lebih bersemangat mempromosikan bahasa kita ini. 2) Soal orang pelit ilmu itu yang gak bakal bertahan. Soalnya bagaimanapun, yah ilmu itu tujuannya ya dibagi bukan buat di kekepin sendiri. Jadi ya mau gak mau kita harus belajarlah mulai dari sekarang berbagi.


Pantai Petitenget ,
Bali. Indonesia
( Foto: Rike)


Ini mirip juga dengan apa yang disampaikan oleh istri dari alm. Prof. Achmad Fedyani S. dari Antrop UI waktu gue mampir ke rumah duka beberapa waktu lalu. Beliau minta agar anak-anak didik Prof. Achmad Fedyani (Pak Afid) untuk melanjutkan ilmu yang sudah dibagi beliau kepada mahasiswanya dan digunakan untuk orang banyak, sehingga amal beliau terus jalan. Heeh..gue setuju untuk tidak pelit ilmu, ...soalnya ntar kelolodan ilmu sendiri juga kan gak enak. Ntar kayak di pelem-pelem horor jaman dulu, ilmunya ketahan dalam tubuh sendiri gak diturunin eh matinya jadi susah..eaaa. Gak dah, gue mah mau mati yang gampangan aja dah. Yang enteng, biar jalan diakhiratnya juga enak.

Sementara di Hostel yang gue inepin itu di Kuta, gue ketemu si Aurora, gadis 21 tahun asal Munich, Jerman yang ingin ke Ubud sekaligus mau belajar Yoga disana. Dia cuman sebentar di Kuta karena di hari kedua dia nginap di hostel dia harus jalan ke Ubud. Aurora sempat batuk-batuk selama tinggal di Kuta. Menurut dia kayaknya sakit flu sejak dia berada di bandara. Pas di pesawat sih masih baik-baik aja kata dia tapi begitu nyampe di bandara dia jadi sering batuk-batuk. Mungkin dia kena perubahan cuaca ya. Kan beda cuaca di Jerman yang lagi dingin-dingin syahdu sama di Kuta, Bali yang panas-panas sedep. Mungkin tubuhnya kaget jadi reaksi alerginya kambuh. Mungkin... haha..berasa dokter yak.
Amazing Hostel Kuta
 ( Foto: Rike)

Amazing Hostel Kuta
( Foto: Rike)

Amazing Hostel Kuta
 ( Foto: Rike)

Tempat tidur yang
 itu punya Mba Ayuna,
ini yang ada bajunya bed gue
 ( Foto: Rike)

Dia udah mengakali dengan berjemur dipantai tapi pas hari kedua dia masih batuk-batuk aja. Kesian ini mba bule satu, mana jauh dari orangtua. Gue sih berpikir ah..mungkin dia kena masuk angin kedalon, soalnya batuknya tiap malam itu lumayan parah, sampai dia harus keluar kamar untuk bisa mendapatkan nafas yang lebih baik. Gue sempet nawarin apa mau dibawa ke dokter terdekat, berhubung di deket hostel ada praktek klinik dokter, tapi diesye gak mau. Katanya saya nanti beli obat batuk aja di pharmacy. Tapi malam itu juga batuknya terus. Nah pas pagi gue ke pelatihan diesye udah cabs ke Ubud. Yah semoga dia lekas sembuh deh ya. Kesian anak orang jauh dari mamaknya kena sakit batuk.

Di asrama eh.. hostel cabin di Kuta ini juga gue ketemu Citra dari Semarang yang menginap di Kuta semalam karena menurutnya biaya menginap di Aston Denpasar cukup besar, kan kalau acara kantor mah dibayarin cuman kalau nginep tambahan kan kudu bayar jadi dia memilih hostel ini untuk tempat menginap semalam.

Kuta Bali di pagi hari,
ini diambil sehabis Subuh
( Foto: Rike)


Kuta Bali di pagi hari,
 ini diambil sehabis Subuh
( Foto: Rike)


Di hari berikutnya, hostel sempat sepi tapi gak lama gue dapat kawan baru lagi di kamar. Namanya Mbak Ayuna, diesye adalah seorang pengajar terapis anak autis. Datang ke Bali karena diesye lagi mau kasih workshop untuk para praktisi Autis di Bali. Mbak Ayuna juga mau buka kelas bagi mereka yang anaknya mau terapi di tempat terapinya. Kita sempat ngobrol gimana sih cara ngajarin anak autis dan kita sempat ngobrol tentang film anak autis yang mampu jadi ilmuwan besar. Dan sempat juga Mbak Ayuna kasih liat materi ajar untuk mengajarin komunikasi kepada anak autis. Cuman Mbak Ayuna cuman menginap dua malam saja kemudian ia pulang ke rumahnya di Pondok Ranggon, Bekasi.

Kemudian di hari berikutnya gue menginap di hostel itu sendirian booo...Heyaaa...syukurnya biar sendirian diluar tetep rame di jalan Poppies 2. Jadi gak sedih-sedih amatlah tinggal disini. Dan karena hostel gue ada di kuta jadi pagi gue ke pantai, sore gue ke pantai. Cuman siang hari doang gue neduh di kamar sambil ngetik atau browsing di internet dalam hostel.


Mohon bersabar, Ini Bersambung


#Bali #Indonesia #BIPA



Comments