Memanggil Jodoh Dukungan Semesta 3 (Jangan Hanya Kasihan)


Foto burung ini lagi halah kayak gak ada ilustrasi tapi yawislahya yg penting ada ( foto:animals.desktopnexus.com)


Iyah. Jangan hanya karena kasihan. Jangan pernah. Itu sih saran gue yang ketiga. Dari rangkaian tulisan artikel tentang memanggil jodoh dukungan semesta yang gue tulis ini.Tahu kenapa? Beberapa kali gue menerima kehadiran seorang pria dalam hidup gue karena kasihan dan ini berakhir dengan kekecewaan. Gak enak banget deh. Dan bukan karena kualitas pribadinya yang baik. Kalau kita kasihan pada satu dua hal dalam hidupnya tapi juga kualitas pribadinya baik sih itu gak papa juga, tapi udah kita kasihanin eh dia malah ngelunjak. Minta di tabok bener gak sih.

Sebut aja namanya X, pria ini mempunyai anak berkebutuhan khusus. Awalnya gue menerima kehadirannya karena ya itu tadi karena kasihan dengan anaknya. Gue sempat berpikir, ah siapa sih kita kan ntar ujungnya juga kalau udah nikah dia pasti jadi anak gue juga dan jadi part of my family gue juga. Tadinya gue berpikir begitu. Gue mah kan orangnya welcome-welcome aja sama siapa pun yang datang pada gue. Gue berusaha nerima kondisi apapun ini yang ada di depan gue saat ini.

X ini ayah dua anak. X berlatar pendidikan SMA. Walau keluarganya sebagian besar bekerja di jalur pendidikan, cuman dia yang bekerja di bidang yang berbeda. Menurut dia, istrinya ini meninggalkan dia. Istrinya pergi dengan kedua anaknya. Gue agak wondering juga sih. Apa iya benar begitu? Tapi kata dia istrinya gak tahan sama keputusan dia untuk mejajal wirausaha yang dirintisnya. Gue sih bisa ngerti keputusan istrinya, yah mungkin kan anak-anak masih perlu biaya yang gede kali ya.

Tahu sendiri kan kalau wirausaha itu gak gampang gak bisa langsung dapat uang segambreng gitu. Kudu ada prosesnya. Nah mungkin disitulah celah dimana si istri gak tahan dan akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah, dimana diujung harinya keduanya pun resmi bercerai.

Sedih banget ya. Gue pribadi dengernya gimana gitu. Tetep ya, istrinya itu kan perempuan. Ngertilah gue. Mana bawa 2 orang anak. Satunya berkebutuhan khusus. Gimana gitu rasanya. Apalagi kakak gue kan juga ada yang divorce dengan membawa 2 anak. Cuman ya X sih merasa pilihannya sudah benar. Karena gimana pun dia tetap bertanggung jawab atas kedua anaknya dan terutama kepada anaknya yang mengalami kebutuhan khusus itu.

Cuman yang rada mulai aneh nih ketika dia tahu gue blogger. Oookay, dia mulai nyerocos tuh. “Apa kamu blogger??? Saya sih gak pernah ya ketemu blogger dalam hidup saya. Tapi kalau youtuber pernah”, nah mulai dah ngebandingin. Padahal bedanya kan cuman di media-nya doang menurut gue yak. Tetep aje kite mah same same content creator kok.

Karena X ini bukan orang Indonesia, gak akan juga gue sebut negaranya dari mana juga, ntar karena nila setitik rusak susu sebelangga kan gak gitu juga, cuman beneran dia eksis tinggal dimuka bumi, maka ceritalah dia bahwa di negaranya itu. Seorang blogger itu pakai semacam asuransi jaminan atau juga perlu punya lawyer khusus gitu deh. Karena katanya sih, kadang kan ada blogger yang melakukan kesalahan dalam membuat konten dan ada perusahaan yang support blogger, memerlukan semacam jaminan dimana tulisan yang dibuat itu tidak akan membawanya sampai masuk ke ranah hukum. OOOookayy.. gitu ya.

Yah sih jaman gini sih ya banyak juga orang yang menyalahgunakan kepentingan, tuduh sana sini. Eh gue juga gak ya? haha.. gak tahu dah. Gue mah cuman orangnya tegaan. Siapa yang menyakiti gue, ya gue jadikan inspirasi gue buat nulis aja. Yah, daripada nyakitin orang balik kan mending kita ambil hikmahnya barengan. Yoi gak, kakak? Keujammm..

Trus dia nanya ke gue,” Kamu di Indonesia, apa blogger gak punya lawyer atau semacam asuransi penjamin supaya gak kena tuduhan yang bisa menyeret kamu masuk ke ranah hukum” dan gue jawablah ya " kagak". Emang kagak punya bro. Sama sekali. Boro-boro mau nyewa lawyer, gue buat bayar bpjs aja seencrit-encritan dah. Kalau nyampe kena ranah hukum, ya allah masyaallah amit-amit jabang bayi dah. Jangan ampeee.. Yah paling gue cari jalan yang gratisanlah. Mana punya duit buat bayar lawyer.

Udah nih. Yang bikin tambah nganga itu ketika akhirnya dia membuka kedok aslinya. Dimana dia gak pengen ngurus anaknya yang berkebutuhan khusus sampai waktu dewasa si anak karena menurut dia " It's gross" HAHH!! anak sendiri bro, gue aja bokap gue sakit muntah muntah gue urusin ini.. ah sudahlah... dan yang paling ngeselin ngeselin ngeselinnya adalah ketika dia bilang. “Saya nih pernah ke Indonesia. Iya, ke Bali. Dengan seorang perempuan yang tadinya akan saya jadikan istri kedua saya”

OOOokay trus bro.” Ya, kami menginap berlibur di Bali di sebuah hotel syariah. Kami tidak tidur sekamar bersama. Kami tidur berbeda kamar. Tapi yang membuat saya aneh, perempuan ini terus menuntut meminta belikan saya berbagai macam barang. Saya kan gak punya banyak uang. Ya saya kecewa ya”, eeett dahhh kamsudte apa nih. Trus lo kenapa ngajak ngobrol gue yak? Dia lanjut deh itu,” Ya, saya mau kasih tahu aja kalau ada perempuan yang seperti itu di negara kamu. Kamu seperti itu gak?”. Astagfirullah hal adzimmmm...Gue jawablah,” Ya, nggak lah. Ngapain saya minta beli-beliin sama kamu kayak dia. Emang buat apaan?”. Dia kira gue cewe matre kali. Biar gak punya duit juga pantang gue minta-minta. Prettt...

Udah nih. Dan yang bikin tensi gue makin naek adalah. Pas dia ngomong bahwa di negaranya itu gak mudah untuk menerima orang dari luar negara untuk tinggal menetap disana. Dan perlu ada jaminan uang sekian ribu mata uangnya untuk menerima orang luar kalau gue mau menetap di negerinya. Iye dah yang udah kebanyakan imigran. Yang negerinya paling top dimatanya.

Dan dia bilang dia gak siap bayarin hidup gue, dia bilang dia gak punya duit untuk support gue. Ett dahhh. Belum-belum jadi suami udah bilang gak siap. Dalam dunia per-karateka-an, mana yang begini bisa memahami arti kata “Osu”,"Oss", ”Oshinobu” dan “Yoi”.Padahal kan selalu ada jalan keluar ya untuk sebuah niat baik ya. Love will find a way. Yawislah yuk dadah byebye ya kakak. Detik itu lepas tahu arah percakapannya dia ini, gue gak pernah mau lagi menghubunginya dan gue hapus semua data-data tentang dia di handphone gue. Bodo amat dah.

Akhirnya gue pun berkesimpulan. Dari semua kejadian yang gue alami ini. Bahwa kayaknya kita nih para pejuang jodoh dukungan semesta, jangan pernah deh mau untuk menerima seseorang karena kita hanya kasihan pada salah satu anggota keluarganya atau pada hidupnya. Iya, kita tahu ada yang sakit atau ada yang butuh disitu. Tapi jelas, bahwa kalau kita ingin seseorang yang ingin kita jadikan pasangan hidup kita, kayaknya kita harus sadar betul deh, orangnya ini kayak apa. Kualitas pribadinya seperti gimana. Bisa diandalkan apa gak?

Jangan pernah terkecoh, kita boleh baik hati tapi tidak dan jangan pernah mentolerir orang yang suka merendahkan negara kita, ngerendahin pekerjaan kita, apalagi yang suka ngerendahin diri kita. Waduh mending gak usah dah dipertahankan yang kayak gini. Udah bener pergi dan jangan pernah noleh ke belakang lagi.

Kita itu terlalu berharga kawan. Jangan karena rasa kasihan kita kepada orang lain, membuat kita jadi malah diremehin. Kalau ada yang model kayak gini. Mending dipikir-pikir lagi deh. Mau seganteng apapun, mau sekaya apapun kalau belum jadi suami istri aja udah hobby ngebully, yang menurut gue itu gak imbang. Mendingan mah tutup pintu, suruh dia keluar dari hidup dan teriak kencang dari loket cinta yang ada di hati, “NEXTTTTT!!!!”.

Foto:

Foto: https://animals.desktopnexus.com


 #jodoh #dukungan #semesta





Comments

Popular posts from this blog

Milo Ganti Sedotan