Bayi Prematur: Pejuang Kecil Yang Luar Biasa


Bicara Gizi NUB, Bayi prematur (Foto:Rike)


Di dalam keluarga saya, ada dua orang anggota keluarga yang lahir dengan kondisi prematur. Keduanya lahir di tahun yang sama namun di bulan yang berbeda. Bedanya yang satu benar-benar berukuran sangat kecil dan yang satu lagi masih lebih besar dibandingkan yang satunya. Keduanya adalah adik orangtua saya. Adik mama dan adik papa. Keduanya sama-sama bibi saya.

Kata mama, adik mama yang bernama Pipit ini lahir sungguh munggil. Mama ingat sebelum lahir adiknya ini, nenek makan buah durian begitu banyak. Padahal menurut orangtua jaman dahulu, orang yang sedang hamil tidak boleh makan buah durian begitu banyak. Alhasil bayi yang ada di dalam kandungan nenek pun minta dilahirkan sebelum masuk bulan kelahirannya. Seingat saya sekitar 7 bulan.

Bibi saya itu lahir sebesar botol kecap kata mama. Sungguh mungil dengan berat sekitar 1,5 kg saja. Namun berkat ekstra perhatian bayi yang lahir di bulan Februari 1963 itu akhirnya tumbuh besar dengan selamat hingga dewasa dan telah berkeluarga.

Sementara dari keluarga papa, bibi Hilda saya yang lahir sebagai bayi prematur ini malah bisa menamatkan kuliah di universitas negeri jurusan bahasa Inggris. Ia kemudian bekerja di perusahaan cargo milik Jerman. Ia malah sempat juga mendapat predikat None Jakarta Utara.

Cuma ya itu, saya dengar juga dari mama dan papa saya, kalau kedua bibi saya ini memiliki riwayat sakit masing-masing. Kalau adik mama dengan kondisi alergi yang cukup kompleks sementara adik papa masih menyisakan efek obat yang harus ia minum karena rentan sakit sewaktu kecil pada giginya yang berwarna agak kuning.

Saya juga sempat bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana sih sebenarnya seorang bayi manusia dengan ukuran yang tidak biasa itu bisa tumbuh hidup diantara bayi-bayi lain yang memang lahir normal dan sehat? Bagaimana sebenarnya ini bisa terjadi ya? Apa karena gara-gara makan buah durian saja, tapi mengapa nenek lagi saya yang satu tidak makan durian tetap melahirkan bayi prematur juga?  Ya, saya tahu mereka butuh masuk inkubator selama proses tumbuhnya tapi gimana caranya ya bisa hidup selayaknya anak lainnya ya? Pasti ada proses panjang hingga akhirnya seorang anak lahir prematur bisa melanjutkan hidupnya lebih jauh.

Lama saya bertanya-tanya dalam diri saya, sampai sebuah pesan memelalui whatsapp datang kepada saya beberapa hari lalu menanyakan kesediaan saya, apakah mau hadir di acara Nutricia yang membahas tentang bayi yang lahir prematur di tanggal 17/11/2018? Lalu saya jawab, tentu saja saya akan hadir. Karena memang saya mempunyai dua orang anggota keluarga yang memang lahir prematur juga. Dan semoga saja saya bisa mendapatkan jawaban yang pasti soal penyebab anak lahir prematur ini.


Ibu Yanne dari Danone,
dulu beratnya tak sampai 2,5 kg
( Foto: Rike)


Acara ini bernama Bicara Gizi NUB, Wold Prematurity Day, Dukung Si Kecil Yang Lahir Prematur untuk Tumbuh Kembang Optimal membahas tentang seluk beluk anak yang lahir dengan keadaan prematur. Bertempat di Ocha Bella Restoran, Jalan Wahid Hasyim Jakarta Pusat, Bicara Gizi NUB kali ini di dukung oleh pembicara seperti dr. Puteri Maharani Tristanita Marsubrin (dokter anak konsultan neonatalogi RS.Cipto Mangunkusumo), Joana Alexandra (selebriti yang memiliki anak terlahir prematur), dan pasangan suami-istri orang tua dari anak Khalid, yang lahir prematur.

Acara ini diselenggarakan dalam rangka menyambut hari prematur sedunia. Di mana diketahui bahwa di seluruh dunia ini, ada 15 juta bayi terlahir prematur per tahunnya dan angka ini bertambah. Indonesia menempati peringkat ke-5 kelahiran prematur tertinggi di dunia, dengan angka kejadian 15,5% (Blencowe, et al. 2012; Liu, et.al. 2012). Anak yang terlahir prematur merupakan anak yang lahir pada usia kehamilan (gestasi) kurang dari 37 minggu akibat berbagai kondisi. Dengan kondisi tubuh yang belum optimal dan besarnya tantangan pemenuhan nutrisi, anak yang terlahir prematur membutuhkan perhatian dan penanganan khusus untuk bisa mendukung tumbuh kembang dan masa depannya, seperti dikatakan dalam press release dari Nutricia & Sarihusada.

Bayi yang lahir prematur juga memiliki banyak tantangan kesehatan  setelah lahir, seperti gangguan pernafasan, peningkatan risiko infeksi, dan peningkatan risiko penyakit tidak menular atau non communicable diseases ( NDS) seperti hipertensi dan diabetes dikemudian hari, atau masalah kesehatan yang lain (Hovl, et al.2007). Salah satu cara mengurangi hal tersebut adalah dengan mengetahui faktor risiko ibu melahirkan anak prematur.


Joana bercerita tentang Ziona, anaknya
( Foto: Rike)


Acara bicara gizi bersama NUB ini dibuka oleh Ibu Yanne Sukmadewi dari Danone Indonesia. Ibu Yanne berkisah bahwa dirinya juga lahir dengan berat tidak sampai 2,5 kilogram. Namun perjuangannya untuk mau terus hidup seperti anak lahir normal lainnya ternyata membuahkan hasil, ia bahkan telah menuntaskan ke-3 pendidikannya di sebuah universitas ternama di Indonesia. Dan kini menjabat sebagai pimpinan di Danone Indonesia. Ini menjadi salah satu bukti bahwa anak yang lahir dengan prematur pun bisa tetap menjalani kehidupan seperti layaknya anak yang lahir normal lainnya.

Kemudian setelah dibuka oleh Ibu Yanne, dimulailah pembahasan tentang anak yang lahir prematur oleh narasumber yang hadir. Joana Alexandra, yang sudah melahirkan 3 orang anak sebelumnya merasa kehamilannya kali ini akan seperti ke-3 kakaknya namun Tuhan berkehendak lain. Bayi Ziona lahir belum cukup bulan. Joana bercerita tentang bagaimana ia awalnya ia bisa melahirkan anak prematur. Bayi Ziona waktu itu bertubuh mungil bahkan sempat  merasa khawatir anaknya yang lahir prematur akan rentan sakit, sehingga siapapun yang ingin masuk ke kamar Ziona dan ingin melihatnya harus dalam keadaan bersih (harus cuci tangan). Sehingga Ziona kecil tidak sampai terkena/tertular sakit.


dr.Puteri menjelaskan
masalah pada bayi prematur
( Foto: Rike)


Sedangkan menurut dr. Puteri,” Anak yang lahir prematur berisiko memiliki kondisi kesehatan yang memerlukan perhatian khusus karena dapat berdampak pada tumbuh kembangnya, baik dalam jangka pendek ataupun jangka panjang. Perlu diingat bahwa masa depan anak tidak hanya ditentukan setelah ia lahir. Masa depan seorang anak dipengaruhi oleh status kesehatan pada 1.000 hari pertama, dimulai sejak masih di dalam kandungan ibu ( 270 hari)”. Dr. Puteri pun menjelaskan melalui kurva-kurva dimana ini bisa menjadi salah satu indikator dalam pengamatan perkembangan anak yang lahir prematur, sehingga bisa tetap memantau sudah sejauh mana perkembangan anak yang lahir prematur ini. Apabila terlihat adanya garis stagnan yang tidak memperlihatkan adanya perkembangan maka dibutuhkan suatu penanganan lebih.


dr.Puteri jelaskan yang perlu
diperhatikan dalam merawat
bayi prematur ( Foto: Rike)


Karena memang ada beberapa hal yang harus dipahami oleh orangtua, bahwa anak yang lahir prematur ini memiliki beberapa problem yang biasanya terjadi seperti rentan terhadap penyakit, metabolisme yang tinggi, imaturitas organnya, kebutuhan nutrisi tinggi, cadangan nutrisi rendah ataupun adanya feeding intolerance. Dan yang banyak dikhawatirkan diantaranya adalah gagal tumbuh pada anak dan stunting dimana bila pertumbuhan bayi terhambat dan bayi tidak dapat mencapai kejar tumbuh maka bayi akan terlihat lebih kecil dan lebih pendek dibanding rata-rata bayi pada usianya. Juga dikhawatirkan  bayi menderita dislipidemia, penyakit jantung, diabetes militus dan hipertensi apabila tidak mendapat kebutuhan yang sesuai dengan porsi yang dibutuhkannya.


dr.Puteri jelaskan kurva
 perkembangan bayi
( Foto: Rike)



Maka pemantauan harus dilakukan, sejak bayi lahir perlu dilakukan skrining pada bayi prematur yang terindikasi. Dimulai dengan pemeriksaan pendengaran pada telinganya, usg kepala, cek tulang, cek anemia of prematurity dan extrauterine growth restriction. Setelah dibawa pulang pun, bayi disarankan untuk rutin kontrol demi mematau tumbuh kembang bayi, apakah bayi sudah tumbuh sesuai dengan kurva pertumbuhannya dan apakah perkembangannya sudah dicapai sesuai usianya.
Para blogger dan media serta kelompok komunitas yang hadir juga diperkenalkan dengan usia gestasi (umur kehamilan), usia kronologis (usia kalender) dan usia koreksi (usia gestasi+usia kronologis)-40 minggu dari ibu yang tengah hamil. Ini juga menjadi bahan pertimbangan sehingga bisa membantu keluarga yang anaknya lahir prematur untuk memantau perkembangannya.

Dr.Puteri juga menambahkan bahwa perlunya menghitung kebutuhan bayi (kebutuhan kalori dan volumenya) tidak boleh berlebihan dan tidak boleh juga kekurangan. Selalu melakukan konsultasi kepada dokter anak sehingga bayi bisa mendapat nutrisi yang tepat. Selalu berusaha untuk memantau pertumbuhan si kecil dari berat badannya, panjang badan hingga lingka kepalanya.

Ada juga beberapa saran dari dr.Puteri yang mungkin bisa menjadi masukan bagi keluarga, dimana bayi yang prematur ini membutuhkan dukungan seluruh keluarga. Sehingga tidak hanya seorang ibu saja, tapi peran ayah, kakak-kakak dan juga nenek kakek bisa sangat berarti bagi seorang ibu dengan anak yang lahir prematur. Ini juga dirasakan oleh Joana, ketika mendapat sentuhan dan belaian dari suaminya juga dukungannya sehingga ia tetap tegar menjalani kehidupannya dalam merawat sang buah hati, Ziona.


Support keluarga sungguh
berarti bagi Joana & Ziona
( Foto: Rike)


Oh ya soal makan buah Durian, hmm.. kalau menurut penjelasan yang saya dengar dari dr.Puteri yang menyebabkan seorang ibu bisa melahirkan bayi prematur itu ada banyak faktor/multifaktor. Ini maksudnya bisa dari gen si ibu, bisa karena ada permasalahan si ibu atau plasentanya. Kalau baca di press releasenya, disebut bahwa kondisi hipertensi, diabetes, asma, gangguan tiroid, pre-eklamsia serta gangguan autoimun dan anemia pada ibu merupakan faktor yang dapat memicu anak lahir secara prematur. Khususnya anemia, menurut Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa 37,1% ibu hamil menderita anemia, yaitu ibu hamil dengan kadar Hb kurang dari 11,0gram/dl, dengan proporsi yang hampir sama antara kawasan perkotaan (36,4%) dengan pedesaan (37,8%).

Saya juga sempat bertanya kepada dr.Puteri tentang apakah metode kangguru dapat mengantikan peran inkubator (teknologi yang digunakan dalam merawat bayi yang lahir prematur). Menurut dr.Puteri, metode kangguru sangat efektif digunakan bila bayi sudah pulang ke rumah setelah usai masa dirawat di inkubator, dengan mengunakan metode kangguru ini hangat tubuh ibu bisa membantu bayi merasa nyaman dan menyesuaikan dengan suhu tubuh ibunya. Namun ketika bayi beranjak membesar metode ini tidak selalu bisa membantu, karena tidak jarang membuat bayi kegerahan sebab suhu tubuh ibunya terasa lebih hangat dibanding tubuhnya. Jadi kalau menyimak sih, memang sepertinya semua itu ada saatnya ya.


Khalid berdiri, dipegang ayahnya
( Foto: Rike)


Yang paling membuat saya tersentuh ketika, akhirnya pasangan suami-istri yang merupakan orangtua Khalid (seorang anak yang lahir prematur) hadir turut berbicara di acara ini. Ibunya bercerita tentang bagaimana perjuangannya mendapatkan Khalid, setelah keguguran beberapa kali. Ibunya juga menderita hipertensi dan diabetes hamil diusia 40 tahun. Ia tidak menyangka Khalid akan tumbuh menjadi anak yang aktif seperti sekarang. Disitu saya menyebut, Ya Allah..ini ya keajaiban-Mu. Dimana rasanya tidak mungkin itu terjadi, bisa saja terjadi. Atas kehendak-Nya. Saya bisa melihat Khalid kecil ingin sekali mengambil microphone dan mengeliat bergerak tidak bisa diam ketika didudukan bersama ayahnya. Saya seperti melihat keajaiban luar biasa hadir di muka bumi, jelas di depan mata saya. Ia nampak seperti sebuah kado istimewa, atas semua perjuangan yang telah orangtua, Khalid dan keluarganya telah lewati.

Saya jadi teringat cerita salah satu teman saya, Irma. Ia mengatakan kepada saya,” Ke’ gue ini gak pernah menyangka hidup gue bakal seperti ini. Lahir dan punya anak. Dengan kondisi badan yang sakit-sakitan ( Irma punya kondisi badan yang ringkih sejak kecil), kok bisa ya gue hamil dan punya anak. Tadinya rasanya kok gak mungkin ya tapi apa yang Allah kasih Jalan-Nya ya Jalan-Nya. Dikasih 2. Anugrah banget Ke”.

Ah, Irma.. Saya jadi ingin punya anak. Yah, semoga saja ya saya bisa menyusul kamu dan milenial Moms lainnya ya.



#BicaraGizi #PrematurBukanHalangan

Comments

Popular posts from this blog

Milo Ganti Sedotan