Kabar Hati Hari Ini

Detak jantungku  (foto: Time.com)




Bagaimana hati? Kamu baik baik saja? Inshaallah baik-baik saja ya. Karena bagaimana pun yang sudah berlalu sudahlah berlalu. Kamu sudah ikhlash kan sejak kemarin.

Ya. Luka masih tersisa tapi sudah bisa melangkah lebih jauh sekarang.

Kalau begitu syukurlah. Tetaplah teguh.



Terima kasih sudah menguatkan-ku (Foto:bustle.com)


Dan sore itu dia menghubungi. Menanyakan kabar. Untuk kesekian kalinya. Kamu jawab kepadanya bahwa kamu baik-baik saja. Dia mempertanyakan mengapa kamu meninggalkan dirinya seorang diri. Dia merasa sepi.

Detik itu waktu membeku. Tanganmu kelu. Matamu membisu. Telingamu terbelengu. Mencoba menarik nafas dalam untuk mengucapkan kata yang sesungguhnya berat untuk kau ucapkan.

Saya meminta maaf karena pergi dari hadapanmu. Dan itu keputusan saya.

Dan tiba-tiba semua berputar pada satu pusaran, sebuah jawaban dari beberapa bulan lalu. Perempuan tua itu. Ia jawab. Yang telah melahirkannya. Tak memberikan kesempatan. Untuk melihatmu bahkan untuk mau mendengarkan kata hatimu sedikit pun.

Macam dirimu itu serpihan debu yang perlu dibersihkan setiap hari, setiap menit, setiap detik dari hadapannya. Rasanya seperti dicabut dari akarnya. Di lempar kemudian dicabik-cabik. Dan dia pula yang  memilih berlindung kepada perempuan tuanya itu. Dari pada merangkulmu untuk berjalan bersama disaat hujan turun. Itulah keputusannya saat itu yang terus terekam dalam kepala.

Pergilah ( Foto: barbara-huson.com)


Setiap kali kamu membatin dalam perihnya tangan mengengam jantung penuh luka tusuk, Ya Tuhan kuatkanlah hatiku. Aku tak lagi punya orang yang bisa kumohonkan. Kepada siapa lagi aku meminta pertolongan?

Maka Tuhan menjadikanmu lebih kuat dari sebelumnya.

Kamu akan baik-baik saja. Saya doakan kamu mendapat yang lebih baik dari saya.

Tapi aku rindu kamu. Sambarnya.

Tak ada jalan keluar. Tak ada masa depan bersamanya. Apa pada manusia nasibmu bergantung?

Saya sudah mengikhlashkan kamu. Saya ingin memulai kembali Islam saya, kembali dari nol. Saya harap kamu memahami apa yang saya lakukan. 

Bila kamu masih tetap merindukan saya, kamu bisa membaca Al Quran. Saya harap itu mendamaikan hatimu. Saya sendiri mencobanya setiap hari.

Ya. Ok. Saya paham. Tapi kamu membuat saya sedih. Saya terluka. Pergi kamu jauh dari hidup saya.

Baik. Saya akan pergi jauh dari hidupmu. Semoga Allah SWT selalu bersama-mu.

Detik terhenti kembali. Tombol blokir di click.


Saya akan pergi jauh ( Foto: aconsciousrethink.com)



Tak ada suara. Tak ada sambungan. Hening. Sunyi seketika.


Hati kamu baik-baik saja?

Ya.





(Jakarta, 18/09/2018)




Sumber foto:
https://www.bustle.com/articles/150193-why-its-healthy-to-feel-sad-because-no-one-is-happy-all-the-time
https://www.aconsciousrethink.com/3692/16-quotes-help-let-go-baggage-free/

Comments

Popular posts from this blog

Milo Ganti Sedotan