Masak Asuransi Ada Yang Halal? Ada Dong, Allianz Syariah Namanya

Mas Agca dari Allianz Syariah ( Foto: Allianz)



Nah itu. Kurang Gaul! Kadang yang bikin orang itu berpikir sempit tentang suatu hal itu ya karena kurang bergaulnya, iya gak sih? Gak mau mendengarkan dan menambah pengetahuan terbaru yang berkembang di masyarakat. Mikirnya dirinya sendiri aja yang paling benar, Heyy to the lowww...kalau mikirnya semua asuransi itu haram, mending banyak-banyak cari informasi ter-update kali ya.

Asuransi itu gak cuman ada yang konvensional, tapi juga ada kok yang lebih syari jaman now. Syari itu sendiri maksudnya adalah mengikuti jalan menuju keselamatan atau dapat juga diterjermahkan sebagai jalan menuju ke sumber mata air. Allianz Syariah salah satunya. Waktu kemarin ikutan kelas mini workshop by Allianz Indonesia untuk blogger di Allianz Tower lantai 7, saya mendapat banyak informasi. Salah satunya tentang asuransi syariah ini.

Berbeda dengan asuransi konvensional yang agak berbau riba. Dimana terdapat unsur yang jauh dari syariah Islam diantaranya ada unsur perjudian/gambling--yang mana ada pihak yang diuntungkan dan ada pihak yang dirugikan, ada unsur ketidakjelasan/gharar—yang mana terdapat ketidakjelasan terhadap objek perjudian,waktu penyerahan, serta besaran premi yang dibayarkan dan soal unsur riba –yang mana terdapat atau dikenakan tambahan. Di Allianz Syariah, layanan asuransi yang diberikan oleh mereka, cenderung mengunakan nilai-nilai yang lebih Islami serta berkarakter syariah diantaranya transparan, universal, adil, fleksibel dan dipergunakan untuk saling tolong menolong.

Di Allianz Syariah juga dikenal adanya dana tabarru’, dana ini sendiri merupakan dana yang dihimpun bersama-sama para peserta asuransi sehingga ketika ada salah satu peserta yang mengalami meninggal dunia, dana tersebut bisa disalurkan sebagai dana untuk saling tolong menolong diantara sesama peserta asuransi syariah ini. Kan di surat Al Maidah ayat 2 ada penjelasannya, kalau umat Islam itu harus saling tolong menolong dan berbuat baik dengan sesama manusia.

Ohya kalau soal transparan nih maksudnya disini, bahwa dana yang Allianz Syariah mengelola dana nasabah dengan cara yang transparan, seperti untuk laporan keuangan pihak Allianz Syariah selalu melakukan update terbaru dari laporan keuangannya kepada publik lewat website mereka. Jadi peserta asuransi syariah bisa melihat secara langsung kemana aja sih uang yang mereka titip kepada pihak Allianz Syariah itu mengalir.

Sejak awal Allianz Syariah telah membuat akad/kontrak yang jelas/terang  kepada para peserta/nasabah mereka dan membagi menjadi dua antara Tijarah (komersial) dengan Tabarru’ (hibah).  Yang Tijarah ini sifatnya untuk keuntungan/ profit, disini peserta/nasabah mendapat 2% sementara pihak Allianz mendapat wakalah bil ujrah (honor untuk Allianz sebagai pengelola). Sementara Tabarru (Hibah) ini buat peserta/nasabahnya.


Ibu Srikandi, Managing Director
Allianz Syariah ( Foto: Allianz)

Sementara alur pengelolaan kontribusi dana peserta/nasabah asuransi syariah Allianz Syariah ini kayak apa sih. Nah jadi dana peserta/nasbah ini dibagi menjadi 3 yaitu Dana Tabarru’ (Iuran Tabarru), dana investasi peserta sesuai syariah dan perusahaan sebagai pengelola (Ujrah).

Kalau universal, maksudnya disini adalah Allianz Syariah mencoba memberikan layanannya untuk seluruh umat manusia tanpa melakukan pengkotak-kotakan siapa dia, berasal darimana, apa warna kulit, suku dan agamanya. Siapapun bisa menjadi peserta dari asuransi syariah ini. Kalau dengar dari penjelasananya Mas Amiril Agca dari Allianz Syariah, peserta asuransi Allianz Syariah gak hanya umat muslim aja ada juga loh umat non muslim yang ikut serta menjadi pesertanya asuransi Allianz Syariah.

Diantaranya tertarik untuk bergabung dengan Allianz Syariah ya menurut mas Agca karena adanya dana tolong menolong atau dana tabarru’ yang menurut selain umat Islam juga memberikan manfaat baik kepada pesertanya.

Mas Agca dari Allianz Syariah sempat menceritakan juga tentang adanya dana diyat di budaya umat Islam di masa lalu. Nah, dana diyat atau dikenal juga dengan uang darah ini pada masa lalu itu, kalau ada seorang muslim yang terbunuh maka pembunuh dan keluarga pembunuhnya dikenakan semacam uang denda yang harus diberikan kepada keluarga korban. Maka keluarga si pembunuh dan pembunuhnya harus bekerja keras bersama-sama mengumpulkan uang diyat ini. Uang diyat ini menurut Mas Agca, mirip sekali dengan uang pertanggungan dalam asuransi. Cuma saja namanya yang berbeda.

Selain itu, Allianz Syariah juga menerapkan keadilan untuk semua. Perusahaannya berprinsip bahwa sebuah perusahaan harusnya tidak mengambil keuntungan yang tamak dan mempunyai pola hubungan yang positif dengan semua yang berperan serta didalamnya. Karena juga Allianz Syariah berperan hanya sebagai pengelola saja.



Blogger belajar asuransi syariah ( Foto: Allianz)


Allianz Syariah juga berusaha fleksibel dan mengikuti tren perkembangan zaman sehingga peserta tidak perlu ragu. Sebab semua dikelola dengan baik oleh pihak Allianz Syariah bahkan uang mengalir juga benar-benar dikembangkan ke bisnis yang sifatnya baik secara Islam. Pihak Allianz Syariah gak ingin dong mengembangkan bisnisnya ke arah yang tidak baik, maka itu bila mengembangkan bisnis pun pihaknya melakukan seleksi ketat terhadap bisnis yang ditanamnya. Apakah juga sudah sesuai syariah atau tidak.

Kalau dari dana Tabarru’ nih, kalau seluruh pendapatan iuran tabarru’ selama 1 periode (1 Jan-31 Des) dikurangi pengeluaran claim. Bila tersisa maka disebut sebagai surplus underwriting. Nah ini yang kemudian dibagikan kepada para peserta/nasabah Allianz Syariah. Kalau dengar dari penjelasannya Mas Agca sih, per bulan Agustus 2018 ini semua peserta/nasabah sudah menerima pembagian dari surplus underwriting dari laporan keuangan tahun 2017. Nah kalau terjadi defisit underwriting, maka dibebankan kepada dana tabarru’ secara otomatis dalam bentuk pinjaman Al Qardh dari perusahaan. Pengembaliannya dilakukan melalui surplus underwriting di tahun-tahun mendatang.

Allianz Syariah juga dipantau atau diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS). Sesuai dengan keputusan DSN No.3 tahun 2000 tentang Tugas dan Fungsi Dewan Pengawas Syariah yaitu : 1) sebagai penasehat dan pemberi saran kepada manajemen asuransi syariah. 2) sebagai mediator antara perusahaan asuransi syariah dengan DSN. 3) Melaporkan kegiatan usaha dan perkembangan lembaga keuangan yang diawasinya secara rutin kepada Dewan Syariah Nasional (DSN). Jumlah DPS dalam sebuah perusahaan asuransi syariah sekurang-kurangnya 1 orang dan untuk Dewan Pengawas Syariah Allians Syariah nih ada dua orang namanya Bapak Dr. H. Mohammad Hidayat, MBA, MH (ketua) dan Bapak Dr.H. Rahmat Hidayat, SE, MT ( anggota).

Nah sekarang udah tahu kan, kalau ada juga asuransi yang bisa barengan mengikuti jalan menuju keselamatan dan gak berbau riba. Sekarang tinggal tentuin pilihan kita deh. Masih mau cari yang berbau riba atau mau cari yang lebih syari ya.

#AllianzSyariahIsNow #Allianz #AllianAsuransiSyariah #Asuransi #AsuransiSyariah

Comments

Popular posts from this blog

Milo Ganti Sedotan