Menginap Bersama Nenek A’uk di Harper Aston Yogya ( Part 4)



jalan masuk ke perumahan tempat tinggal Risma di Godean Yogya

Sambil ngepak barang, sebelum kita turun ke lobi. Gue dan Nenek A’uk sempat ngobrolin soal wedang uwuh semalam di kamar hotel yang kami minum bareng. Nenek cerita gimana dia diberitahu oleh Mbak Rima tentang minuman wedang uwuh ini yang ada di Yogya.” Aku denger pertamanya dari Rima. Katanya di Yogya Nenek jangan lupa minum wedang anget. Faisal juga bilang begitu, biar gak masuk angin Nek. Cuma ya itu aku gak tahu namanya, nah ini kamu bawa, aku jadi bisa ikut minum ya,” kata dia. Gue awalnya mau menyerahkan semua isi sisa sachet plastik wedang uwuh yang di beli di warung dekat hutan pinus Imogiri itu. Tapi nenek bilang, ini sebagian buat dia dan sebagain buat gue. Kata Nenek, biar sama-sama bisa menikmati rejeki.

Kami juga bahas gimana sebenernya sebuah rejeki wedang uwuh ini sampai ke tangan kami berdua. “ Pertama Rima dan kedua Faisal bilang soal wedang uwuh ini ke Nenek. Terus kakakmu beli ya, dan kamu bawa ke kamar kita dan kita minum berdua. Itu rejeki ya,” kata Nenek A’uk.  Iya ya kita gak pernah tahu jalannya rejeki disampaikan kepada kita lewat siapa, dengan cara apa, dengan tangan siapa dan tiba-tiba tringgggg... Allah SWT kasih deh ke kita. Walau dia harus jalan panjang dulu lewat tangan beberapa orang. Rejeki datang gak pernah salah ke pintu rumah orang lain ya, dia selalu nyampe ke orang yang tepat, dengan perjalanannya yang ajaib.

Setelah berbagi wedang uwuh kami berdua turun dengan membawa tas dan koper masing-masing. Gak lama kami duduk di lobi, rombongan krucil bermunculan di lantai bawah. Yipa, safa, amar dan noval. Sisanya di rombongan berikutnya. Setelah selesai dengan pembayaran hotel kami semua berangkat menuju ke rumah Risma di Godean.

Pemandangan di depan rumah Risma di Godean Yogya


Kita sempat salah jalan karena kan rumah Risma ada di pinggiran kota Yogya, dan perumahannya itu berada diantara ladang dan persawahan di sekitar Godean. Mantap jiwalah pemandangannya. Asri. Kayak gak tinggal di kota Yogya. 

Lumayan lama kami berada di rumah Risma dan sempat ketemu Dina, salah satu anggota keluarga Batang yang bekerja jadi dokter di sebuah RS di Kendal. Kalau ama Dina gue mah nyambung aja bawaannya soalnya selain friendly, dokter yang satu ini emang paling down to earth dalam keluarga dan karakternya yang easy going bikin gembira aja bawaannya tiap ketemu dia. Jadi seperti biasalah kita ngobral ngobrol selesai dia acara arisan keluarga. 

Dina adalah dokter yang menganut bahwa duren itu gak papa kok dikonsumsi selama gak kebanyakan; dan ngebakso itu enak dan gak haram selama pada porsinya haha.. Gue suka dokter kayak gini ( dr.Dina i like your style). Inget gue udah begah-begah makan duren berapa biji pas ke Banjarnegara ama keluarga, gue liat dia masih lanjut trozzz haha.. trus kemarin sekalian gue ngobrol soal sakit pinggang gue. Gue udah datang ke2-3 dokter dari dokter umum dan dokter tulang beda-beda. Kalau dr dokter umum pertama menduga gue sakit tulang dan minta gue cek ke dokter tulang, tapi kemudian dokter tulang bilang ini kayaknya bukan masalah di tulang deh. Kalau udah digerakin kayak posisi sujud atau duduk gak kerasa sakit tapi sakit gue itu datang dan pergi. Nah dokter yang atu lagi menduga gue kena encok. Sempat ngobrol sama Sempai Diana yang dokter lulusan UI, katanya masak sih semuda gue kenanya arthritis dan beliau minta gue cek lagi. 

Sementara kata Dina sih sebaiknya gue konsulnya ke dokter spesialis penyakit dalam, jangan-jangan bermasalah di ginjalnya gue karena kan gue duduk melulu, kurang gerak dan kurang minum. Dina menyarankan untuk sementara perbanyak minum air putih (no tea or coffee for a while..ooohhh so sad) karena itu bisa meminimalisir rasa sakit yang timbul hilang itu. Atau gue konsul ke rehab medik, tapi katanya nanti larinya bisa ke masalah  syaraf. 

Dina juga bilang, bermasalah di pinggang juga bisa jadi itu encok. Maka itu gue perlu pergi ke lab untuk memastikan apa yang terjadi sama pinggang gue. Gue juga bilang sih ke Dina, kalau gue latihan karate lagi boleh gak dalam kondisi  seperti sekarang ini. Gue khawatir sakitnya datang pas gue latihan. Dina sarankan gue, baiknya komunikasikan hal ini ke dokter spesialis/ rehab mediknya biar mereka yang kasih saran yang terbaik apakah gue boleh tetap karate atau gak dengan kondisi gak boleh banyak minum sepanjang latihan. Dan yang paling nampol dari kata-kata dina, gue kudu nurunin beban berat badan bisa jadi itu terjadi karena pinggang gue terbebani oleh berat badan gue yang udah overweight. Lah gue bilang ke dia, gimana cara terbaik menghilangkan beban ini, kalau terus dibebani oleh beban hidup. Dan Dina pun pusing njawabnya, masalahnya kita sama-sama masih single dan hobby travelling, kami bareng bareng kudu harus bisa nyari nasi sendiri. Survivor abiesshhh. Dan jujur aja kami berdua masih sedih kalau lihat tempat beras tiris isi-nya saat gak punya duit atau belum gajian hahaha... Dina kan sama kayak gue, sama sama yatim piatu. Mamanya udah duluan setelah papanya meninggal beberapa tahun lalu. Kami gak gitu bisa ngandelin terlalu banyak pada keluarga.

Oleh-oleh dari keluarga Nenek Ros dan Risma, Wingko!


Selesai haha-hihi sama dr.Dina si dokter funky, gue pamitan sama seluruh anggota keluarga dan siap-siap kami meluncur ke bandara Adisucipto Yogya.










Comments

Popular posts from this blog

Milo Ganti Sedotan