Mau Jadi Apa? Prok Prok Prok.. Maka Jadilah Baik

Kelas outdoor Sosiologi Pendidikan yang di ajar Kesepz di UIN Ciputat, dosen gaul mah gini haha...



Itu saja buat gue udah cukup. Gak usah lo jadi orang yang sok ketinggian tapi jiwa lo kering kerontang, sombong dengan apa yang lo rasa kan karena ngerasa udah tahu segala dan udah punya segalanya lahhh emang lu sapose??
Kalau ditanya kenapa gue pengen ngejar sekolah sampai S3? Lah bokap sebelum meninggal pesan agar gue mau melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang S3. Walaupun jalurnya gak mudah. Tapi gue memang sedang mencoba mengamati bidang mana yang gue bakalan ambil. Yah walaupun berdarah darah buat nyenengin hati bokap gue yang udah meninggal apalagi yang bisa gue kasih ya. Seberapa lama pun itu harus gue tempuh sesusah apapun medan dan kendala yang harus gue temuin, doakan gue ya bisa mewujudkan cita cita alm.bokap. Ntah kapan tapi inshaallah pasti gue coba jalanin.

Oleh seorang teman gue dulu pernah dibilang, gak bakalan sampai S2 atau malah dibilang gue gak cocok sekolah S1. Gue gak nangis. Walau sedih juga denger kata kata itu keluar dari teman dekat gue waktu itu (sekarang gak lagi soalnya dia emang tinggalnya jauh haha). Tapi Alhamdulillah semua yang dia ucapkan itu tidak terbukti. Allah Maha Baik, gue dikasih jalan aja nembus S1 dan S2 walaupun yeah berdarah-darah hahay.. lebay..Gue tahu gue gak sepinter dia, tapi Allah gak tidur selalu kasih jalan buat gue. Walau gue harus muter jauh, gak kayak temen-temen.

Beberapa waktu lalu gue diundang jadi dosen tamu di kampus UIN-nya sahabat gue Kesepz bekerja. Kesepz merasakan adanya generasi saat ini yang belajar di kampusnya tidak lagi ingin bekerja sebagai peneliti dibidangnya dan cenderung untuk bekerja diluar jalur pendidikan. Walaupun gue sebenernya gak sepenuhnya  sependapat sama pendapatnya Kesepz tapi ya memang, gak banyak orang yang mau terjun di dunia penelitian di masa kekinian ini. Waktu gue sharing soal ini ke milis antrop waktu itu juga begitu. Ada yang mau sekolah di bidang keilmuan yang lebih teoritis tiba-tiba jadi teller bank, ada yang sebaliknya mungkin? Rejeki memang ditangan Allah SWT tapi manusia juga berhak menentukan jalannya ( jieee...)

Namun gue sih masih ada toleransi sih, gimana pun ilmu itu bukan untuk bikin jadi kotak kotak tapi sesungguhnya (beuhhh berasa ustadzah hahaha) ilmu itu bisa diterapkan saling silang. Contohnya gini. Di perusahaan swasta, kalau pun bekerja dibidang marketing yang keliatannya sangat memikirkan keuntungan tetap aja ada sisi lain yang dibutuhkan mereka dari penelitian. Tanpa penelitian gak jalan dengan baik itu marketing. Begitu juga di dunia eksakta, dimana industri pesawat tempur atau pesawat komersil, tanpa adanya penelitian sosial dan penelitian ekstaktanya mana mungkin mengembangkan pesawat jadi-jadian buat diri sendiri, lah kalau begitu mah jangan bangun industri/perusahaan pesawat atuh. Bertapa aja sendirian di gua dah. Intinya mah “you’ll never walk alone”, semua itu sesungguhnya ada buat semua juga. Lah emang siapa yang punya gagasan dan menciptakan centong sayur kalu bukan akhirnya digunakan untuk semua umat manusia di muka bumi buat ngambil kuah sayur.. ya ibaratnya gitu dah.

Nah waktu diskusi di kelas sosiologi pendidikan itu ada yang nanya, untuk menghasilkan uang dari penelitian gimana? Terus berapa banyak penelitian yang harus kita dapat untuk bisa menghidupkan diri kita sendiri? Ada juga yang nanya kaya mana sih hasil laporan gue. Jadi sebenernya kan tiap proyek beda-beda, ada yang besar ada yang kecil. Nah gue sih ibaratnya nih  dapat 6 setahun saja alhamdulillah karena gue nyari sampingan lainlah mosok dari situ aja kalau gak cukup gak usah jerit hidup itu pilihan, kita memilih kita mencari gitu ajalah. Tapi kalau mau sebanyak banyaknya juga kalau sanggup mah silahkan. Karena kerja penelitian itu gak cuman fisik yang kuat tapi mental juga. Kalau gue sukanya kerja model begini bisa on/off istirahat sebentar kemudian lanjut kerja kembali di lapangan. Jadi gue tetap punya waktu untuk ngeliatin ponakan gue tumbuh atau nemenin kakak gue belanja.

Tapi kalau 6 aja setahun tapi kalau honornya cukup yah fine-fine aja sih. Buat gue tergantung aja sih. Gimana kita memanage. Itu kalau freelancer ya. Nah kalau jadi peneliti di perusahaan research/lembaga negara/lembaga swasta/perusahaan swasta/perusahaan negara/ bahkan agency di bidang komunikasi nan gawoollll itu sekalipun wah lain lagi caranya. Bisa mungkin penelitiannya lebih banyak atau mungkin lebih sedikit tergantung porsi anggaran si tempat dia bekerja deh, beda sama freelancer mungkin ya. Tapi ya gaji ngalir dari bulanan dari anggarannya si perusahaan/lembaga tersebut itu. Jadi .. Men hidup ini pilihan. Lo mau freelancer atau gak itu pilihan lo.

Gue jadi keinget pertanyaan Ibu tiri gue kemarin,” Rie kamu tuh passionnya dimana sih?”, mungkin saking gue itu langkahnya ngebikin bingung orang ya. Gue sebenernya punya banyak passion tapi yang utama gue tertarik sekali terjun di dunia penelitian. Walau gak sekelas teman-teman senior yang udah kakap atau mungkin yang junior tapi yang udah banyak makan asam garam kehidupan tapi gue paling suka ngaduk-ngaduk panci sup sambil nemuin apaan aja sih yang ada dalam sepanci sup itu hahaha..

Nah yang nanya laporan gue ini anaknya sungguh kritis. Dan dia perempuan. Tapi dia lupa. Gak semua penelitian laporannya bisa dipublish ke masyarakat. Ada poin poin khusus yang mungkin hanya ingin diamati oleh si pemberi modal hehe.. ada yang boleh silahkan publish semuanya ke masyarakat biar semua tahu kerja kami. Jadi mbak ya, di internet ada laporan saya beberapa silahkan monggo dilihat termasuk buku tentang desa Mesuji di Lampung ini.

So gitu aja ya. Semoga bisa dipahami. Bahwa menjadi peneliti gak selalu harus bekerja di pusat penelitian, kalau dapat rejeki halal anak sholehnya di pusat penelitian ya syukur tapi kalau di perusahaan market research juga gapapa selama masih dalam karidornya. Tapi kalau mau melenceng, itu juga hak masing-masing sing penting ilmunya dipakai untuk kebaikan bukan buat guna-guna peneliti muda atau ilmu hitam halahhh... Ya demikian Terimaaaaaaa Kaaassssssihhhh... Kembali.

Comments

Popular posts from this blog

Milo Ganti Sedotan