Olah,Olah,Olah! Oleh-Oleh dari Public Expose Dompet Dhuafa 2018



Bapak Mukhlis Bahrainy, pengusaha Indonesia yang mendukung Dompet Dhuafa di Public Expose Dompet Dhuafa 2018



"Olah,olah,olah!", begitulah seperti oleh-oleh kata motivasi-nya yang disampaikan sama Bapak Mukhlis Bahrainy, CEO Pachira Group seorang pengusaha yang bergerak dibidang agro industri di Indonesia saat menjadi pembicara di Public Expose Dompet Dhuafa 2018, Laporan Kinerja Dompet Dhuafa 2017 di Gado-gado Boplo Theresia, Menteng - Jakarta Pusat (30/01/2018). Beliau menyebut kata itu dengan semangat agar kita semua yang ada di Indonesia tergerak untuk  berusaha mengembangkan kekayaan alam yang ada di negeri kita ini salah satunya dengan mengolah hasil panen pertanian atau perkebunan diantaranya dari buah-buahan yang ada di Indonesia, secara mandiri sehingga kita tidak melulu bergantung kepada import bahan baku dari negeri luar sana.

Bapak Mukhlis sebagai salah satu orang yang masih peduli pada negeri ini berharap bisa membantu kaum dhuafa dengan mengembangkan industri plasma yang digerakan oleh kaum dhuafa, sebuah kampung industri kecil. ”One Village, One Industry”, kata Bapak Mukhlis menyampaikan mimpinya ke depan forum Public Expose Dompet Dhuafa 2018. Bapak Mukhlis dalam usahanya telah mengembangkan usaha seperti Chili paste, tomato paste, selai dan beberapa bahan baku untuk industri makanan diantaranya terbuat dari bahan-bahan yang asalnya dari Indonesia.


4 pembicara di Public Expose Dompet Dhuafa 2018
( Ki-ka: Pak Mukhlis, Pak Fadil, Pak Iwan & Pak Imam)


Menurut Bapak Mukhlis juga, bahwa Indonesia sebenarnya bisa saja menandingi negeri China, yang saat ini sedang berada di atas Indonesia dalam industri makanan. Bapak Mukhlis mencoba membandingkan bagaimana negeri China yang telah lebih dulu maju dalam finish food industry dan food Ingredient industry. Namun menurutnya Indonesia masih bisa mengejar China, dengan berusaha keras mengatasi kekurangan yang saat ini masih harus ditutupi, salah satunya dapat dilakukan melalui program yang ada di Dompet Dhuafa. Juga dengan pengadaan mesin-mesin skala kecil yang dapat digunakan dalam industri yang lebih kecil.

Berkaitan dengan teknologi mesin Bapak Mukhlis menyebutkan bahwa suatu teknologi tidaklah melulu harus mahal dan rumit.” Mahal rumit is not technology. Yang mahal jadi murah, yang rumit jadi mudah is technology”. Selain menyinggung soal teknologi yang tepat digunakan dalam skala industri kecil, Bapak Mukhlis juga meminta agar pengusaha agar mereka tidak melulu berpikir bahwa menjual produk ke pasar hingga ke tahap akhir/finish selalu, karena negeri kita ini sangat luas dan ini diharapkan bisa mengurangi bahan baku import dari luar negeri. 

Gula Semut, salah satu produk dampingan Dompet Dhuafa dari 100% Nira Kelapa


Weitsss tunggu-tunggu!!.. sepertinya tulisan ini kok jadi terlalu baku ya seperti tulisan-tulisan yang straight news ituloh dan inikan blog gue, ini bukan website hard news yaaaa, yuklah kita santai sedikit bro sis. Gak boleh terlalu tegang, ini bukan menara kawat PLN yang selalu bertegangan tinggi. Jadi nih huuh juga ya Pak Mukhlis, buah di Indonesia itu kan banyak banget bahkan di Hutan Kalimantan atau mungkin di Papua itu buah-buahannya kan lucu-lucu pula. Coba deh sekali-sekali bikin selai dari buah Empelam-sejenis mangga tapi ukurannya kecil yang rasanya asem tenan itu atau selai buah gohok/buah buni/duku atau buah ceremai atau bikin inovasi seru kayak yoghurt rasa nangka/kedondong/kesemek/mengkudu. Bahkan waktu di Kalimantan Barat gue pernah dikasih sama keluarga tempat gue tinggal itu buah yang mirip buah strawberry (gue lupa nama buah ini apaan) dari tampaknya, tapi begitu dimakan itu sepetnya amit-amit jabang bayi. Jadi menurut gue penting itu untuk explore more dan inovative more dah (udah kaya motto apa gitu). Weihhh coba deh diinget bakal lucu kan, kalau kayak menikmati makanan/minuman penuh kejutan gitu. Uwowww gitu deh haha..

Okeh kita lanjut ke acaranya Dompet Dhuafa ya, jadi ternyata sekarang Dompet Dhuafa itu mau masuk ke umurnya yang ke 25 tahun. Weih ini sih bukan muda lagi tapi udah dewasa ya. Sedeng matang-matangnya. Dompet Dhuafa tuh mencoba berkolaborasi sama budaya masyarakat Indonesia untuk terus memajukan bangsa, kalau kata Bapak drg. Imam Rulyawan,MARS (Direktur Utama  Dompet Dhuafa Filantropi) bahwa yang dimaksud budaya disini bukan melulu terkait kesenian di suatu daerah namun juga budaya bercocok tanam, budaya kesehatan dan budaya lainnya.” Dompet Dhuafa selama perjalanan 25 tahun ini, semakin menguatkan potensi lokal dengan menjalankan konsep Social Enterprise seperti program Green Horti dan Kebun Indonesia Berdaya”, demikian kata Bapak Imam. 

Bapak drg. Imam Rulyawan, MARS, Dirut Dompet Dhuafa Filantropi


Jadi Bapak Imam ini beneran dokter gigi loh, tapi beliau mau mendampingi kaum dhuafa di Dompet Dhuafa selama berpuluh-puluh tahun supaya mau ikut berkembang bersama Dompet Dhuafa. Ya, kalau ingat semangat 3M (Mustahik Move to Muzaki) yang ada di Dompet Dhuafa itu no wonder-lah ya. Dimana Dompet Dhuafa tuh kan ingin agar kaum Dhuafa dapat mengembangkan dirinya sehingga bisa berpindah dari status penerima zakat menjadi pemberi zakat. Coba siapa yang mau didampingi sama Dompet Dhuafa untuk trus berbuat baik dengan menjadi tangan yang berada di atas, dan gak nadah melulu. Kan kata hadist, Nabi Muhammad SAW pesan kalau tangan yang diatas itu lebih baik ya. Lagian kalau kita berbuat baik kan poin pahala kita bakalan nambah terus. Enak toh.. asyik toh...

Dompet Dhuafa sendiri telah memiliki 17 cabang dan perwakilan dalam negeri, 5 cabang berada di luar negeri, 9 kantor layanan, 138 program, 18 gerai sehat layanan kesehatan cuma-Cuma, 5 rumah sakit, 4 sekolah, 7 outlet Dayamart, 1 De Fresh, 11 Unit Bisnis. Terus nih yang menerima manfaat dari Dompet Dhuafa di tahun 2017 aja nih ada 1.682.895 jiwa dan layanan di seluruh Indonesia sedangkan di luar negeri ada 26 negara dengan 82.882 jiwa dan layanan. Gue sendiri pernah menjadi salah satu penguna layanan Dompet Dhuafa, tapi gue lupa buat bayar zakat apa sedekah waktu itu hehe..Tapi dengan ikut lihat Public Expose Dompet Dhuafa 2018, gue jadi tahu kemana aja sih selama ini aliran uang yang gue kasih ke Dompet Dhuafa itu. Jadi gak sekedar kasih ke kaum Dhuafa terus dibiarin gitu aja tanpa jelas juntrungannya. Dompet Dhuafa kalau gak salah programnya itu ada banyak banget deh selama ini. Dari program kesehatan, ekonomi, sosial, pendidikan sampai dakwah juga dengan segambreng unit usahanya, kesehatan mandiri, sekolah mandiri, zona madina dan lembaga semi otonom seperti kampus bisnis Usman Usman dan Dompet Dhuafa University...Wualahh...

Bapak Iwan Ridwan, Dirut Dompet Dhuafa Social Enterprise


Dan ternyata itu uang yang kita para donatur sampaikan ke Dompet Dhuafa pun kaum Dhuafa ada beragam cara ya. Gak melulu cuman zakat dan sedekah, tapi ada juga wakaf yang katanya nih lebih abadi gitu karena terus dirawat dan dijaga sehingga pahalanya terus menerus gak berhenti. Mengalirrrr terusss bak air sungai ke lautan gitu kali ya. Wakaf bisa berupa bangunan ataupun tanah. Namun dana yang mengalir ke Dompet Dhuafa juga harus memenuhi 3 AL yakni Halal, Legal dan Masuk Akal. Dompet Dhuafa juga, kata Bapak Iwan Ridwan – Direktur Utama Dompet Dhuafa Social Enterprise menjaga agar dana dari donaturnya itu bersih dari terorisme dan pencucian uang (Haduhh... gak usahlah ya nyuci-nyuci uang, eman-eman nanti basah... mending kita mencuci baju saja ya). 

Nah, yang juga menarik kan ada juga Mas Fadil Setiawan dari Green Horti Mojokerto yang mendampingi para petani yang mengembangkan usaha agro bekerjasama dengan Dompet Dhuafa di Mojokerto. Mas Fadil bilang nih di tempatnya itu ada wisata agro yang dikembangkannya namanya Padusan Agro, ada tempat wisata petik strawberry. Sekali lagi mari kita Uwow.. jadi selain bisa metik kita juga mencicipi es krim strawberry dari buah strawberry beneran loh ya bukan boongan. Ini sungguh Uwowwww...Ada juga pengembangan buah beet. Ituloh buah yang warnanya merah keunguan yang katanya berkhasiat untuk mengobati kanker. Jadi saking banyaknya pesanan buah beet ini akhirnya Mas Fadil pun berinovasi untuk membuat bubuk buah beet yang juga ia pasarkan kepada konsumennya yang ternyata rata-rata digunakan untuk kebutuhan penyembuhan sakit kanker.



Mas Fadil dari Green Horti Mojokerto


Ohya selain itu kan Dompet Dhuafa punya kawasan namanya Zona Madina yang ada Parung Bogor jadi kawasan ini merupakan kawasan pemerdayaan umat terpadu dengan luas 3,6 hektar, dimana didesain  dan dikembangkan dengan konsep kawasan tumbuh dan terpadu dengan landasan tata nilai Islam yang Rahmatan Lil Alamin, membangun pemberdayaan sosio-ekonomi, budaya dan pengembangan nilai religi dengan masjid sebagai pusat kawasan. Nah dikawasan ini juga ada Jampang English Village loh mungkin kayak English Village ini kayak di Kediri, Jawa Timur itu ya. 


Pak Iwan sedang menerangkan tentang Zona Madina Dompet Dhuafa

Dan satu lagi yang menarik adalah De Fresh, toko swalayan milik Dompet Dhuafa yang sayurannya merupakan hasil dari panen agrobisnisnya Dompet Dhuafa. Ini baru ada di tahun 2017, tempatnya gak jauh dari rumah gue di kawasan Jakarta Selatan juga. Gue seneng banget Dompet Dhuafa punya toko fresh vegetable dan fruit gini soalnya kan rata-rata yang jualan gini supermarketnya agak gede-gede ya, Cuma kalau boleh saran nih buat Dompet Dhuafa De Fresh. Gue kan kalau kemana-mana suka naik bus atau kereta sekarang, dan hodoh pulang ke rumah kadang udah malam susah nemu tukang sayur yang buka malam buat beli buat besok pagi atau makan malam, jadi semoga aja Dompet Dhuafa De Fresh bisa ditempatin di lokasi yang deket sama stasiun kereta api atau dengan shelter bus Transjakarta jadi kan begitu gue turun dari perjalanan jauh masih bisa belanja sayur dan buah segar tanpa harus ke pasar becek lagi..gak ada ojek gitulah ya kakakkk. 


Ini diantara produknya Dompet Dhuafa..keren kan kemasannya dan rasanya endessss loh


Okeh deh demikian ya kiranya oleh-oleh yang bisa gue sampaikan dari Public Expose Dompet Dhuafa 2018  kepada pembaca tersayang. Semoga tetap eksis dan berjaya ya Dompet Dhuafa jangan lupa untuk terus membentang kebaikan. Maju terus pantang mundur Dompet Dhuafa





Comments

Popular posts from this blog

Milo Ganti Sedotan