Sayang Papa Achmad Dadang Kafrawi:)

Aku tidak peduli orang membuat kata apapun pada bapakku
karena ingatanku masih ada disana tentang dia.
Malam-malam di kala panas suhu tubuhku naik dan ia membuka bajunya dan menempelkan aku yang sakit di punggungnya sampai suhu tubuhku turun.
Mendandani rupanya yang sungguh lelaki menjadi seorang perempuan berkuncir penuh bedak dan kami tertawa-tawa melihatnya melucu.
Soal-soal matematika kelas 3-6 yang makin sulit dan hanya dapat dijawab dengan caranya, di pagi hari sebelum berangkat bekerja.
Pulang kantor kami sambut bukan karena dia datang tapi karena dia membawa harian bergambar khusus anak di poskota. Lalu kami tinggalkan ia yang letih sampai di rumah dan asik membaca harian itu bergantian.
Ingat sholat berjamaah bersama, memakai bajunya yang kebesaran untuk kami,
Naik angkot bersama ke rumah kakek
Mobil dinasnya yang oranye itu yang tak perlu ac karena angin masuk melalui bolong-bolong di dinding badan mobil dan bila aku tertidur di mobil dia angkat ke kamar.
Suatu hari teman tkku mengatakan mobilku kuno esok harinya ia datang meminjam mobil pada kakek ia tidak mau anaknya dihina lagi dengan mobil kuno itu. Padahal aku tak mempedulikan ucapan temanku.
Malam malam di kecamatan malam malam dengan motor berkeliling wilayah.
Hari hari sibuknya.
Marahnya pada ku.
Tawa bangga ketika aku lulus kuliah.
Cara senyumnya yang miring.
Suara berat seraknya yang mirip penyanyi rock jaman dahulu.
Cara berjalannya.
Cara memandangnya.
Semua...
Begitu indah
Terima kasih Papa.
Terima kasih Ya Allah memperkenankan saya bertemu dengannya selama 32 Tahun.
Terima kasih banyak.
Semoga Allah SWT memberikan tempat yang terbaik kepada Orangtuaku. Amin.


Sayang Papa.


Galaktika Ragunan
28/11/2012

Comments

Popular posts from this blog

Semalam Tahun Baru di Mandarin Oriental Hotel Jakarta (1)

Saham Pertama di 2019

Nginap di Hotel Oria, Jakarta Pusat