mobil ayah




Mobil  Ayah
oleh : rike

“ Ayah yang akan ambil raport ! “
“ Hah?…arghhh… ibu saja deh yang ambil..ya..bu..ya…ya”
“Lho kamu gimana sih...besok kan ibu mau kembalikan baju-baju yang sudah di mote-in ini ke rumahnya tante Rahma “
“ Yah… ibu aja yahhhh…”
“ Apa sih?… sama ayah juga gak papa kan? Apa salahnya sih?”
Aku manyun sambil berjalan ke arah kamar.
*
            Aku sebenarnya gak ingin ayah yang ambil raport itu. Kalau ayah datang pasti satu sekolahan rame ngomongin dia dan mobil aneh ayah itu. Mobil sisa jaman perang yang sampai kini ayah tidak ganti-ganti. Warnanya pun gak kalah sama pakaian kesukaannya, jingga menyala.
            Sudah begitu, biasanya ayah datang paling awal. Diantara ibu-ibu yang datang ambil raport ayahlah satu-satunya pria dewasa yang mengambil raport. Jarang sekali rasanya bapak-bapak yang ambil raport di kelas 5, pokoknya lebih banyak ibu-ibunya lah.
            “ Ringgg…Ringgg”, telepon di rumahku berbunyi
            “ Hallo, ini Titut mau bicara dengan siapa ?”
            “ Titut…ini Anna “
            “ Haiii…Anna…besok terima raport..wuiiiihhh..takutt”
            “ Hihihi…Anna juga…ohya besok raportnya akan diambil siapa?”
            “ Sama ayah. Anna gimana? “ jawabku malas
            “ sama Bunda. Ohya..nanti les jam berapa ?”
            “ Sebentar lagi Na’….Aku mau sisiran dulu”
            “ Ok deh kalau begitu aku tunggu di depan toko-nya ibu Sri yaa…bye..bye”
            “ Byeee…” KLikkkkk
Ayah lewat, ia baru saja pulang kerja. Pakaian dinasnya belum diganti. “ Siapa yang kau telepon?” tanya ayah
            “ Anna yah…”
            “ Tidak berangkat les?… mau ayah antar tidak?”
            “ Gak…gak usah yah …makasih…ayah kan masih capek ya?..”
            “ Kenapa ?”
*
Aku minder naik mobil ini, banyak bolong-bolongnya. Memang dari situ kita bisa merasakan dinginya angin kalau malam dan karena angin itu aku suka tertidur tapi mobil kuno ini dengan ayahnya, kadang membuat aku jadi tersorot bak artis cilik yang sedang akan jalan ke panggung. Hari ini ia pakai kaus jingga menyala itu dan cocok sudah dengan warna mobil ini.
Benar saja waktu aku mulai buka pintu mobil anak-anak laki yang sedang bermain bola di dekat parkiran menyorakiku “ Wehhhh..mobilnyaaaa Tituttt kereennnn benerrrr…!!!”, ayah malah nampak bangga dengan ucapan teman-temanku itu.
Mukaku tambah manyun saja. Namun nampaknya ayah mulai curiga, kenapa aku jadi manyun begitu.
“ Titut kenapa sih?”
“Mobil ayah kenapa sih warnanya musti kayak gitu? Kan norak yah…anak-anak jadi banyak yang ngebecandain aku”
“ terus?”
“ Yah…itu kalau antar aku kan bisa jalan kaki aja dari rumah”
“ Oh..jadi mau jalan kaki nih? Terus..gimana kalau jalan kaki,pulang dari sini lupa bawa payung terus hujan? Mau hujan-hujanan..dan besok gak jadi pergi  liburan ke Ancol karena kehujanan gimana?”
“ Mending jalan kaki!! Yang lain juga jalan kaki sama mama-nya..lagian terang menderang begini mana mungkin hujan?“
“ Hmmm…”
Aku meninggalkan ayah di dekat ruang kelas, sementara aku pergi ke bergabung dengan teman-teman perempuan di kantin sambil bersunggut-sunggut.
*
Pembagian raport selesai. Akhirnya semua diperbolehkan pulang. Aku dan ayah masih dengan tersunggut-sunggut yang tersisa tadi.” Kenapa sih masih manyun begitu?…hey..Titut coba kamu lihat ke atas”, ada awan agak gelap diangkasa,tidak berapa lama dalam hitungan detik rintik-rintik turun. “ Hujan kan?”, ketika naik ke mobil baru terasalah hujan turun lebat.” Tuhh..kan lebat?”
Aku jadi gak enak sama ayah. Aku diam saja karena malu. Aku melihat beberapa orangtua terpaksa hujan-hujanan sama anaknya, sementara aku masih bisa naik mobil. Ternyata mobil ayah walaupun kuno punya arti besar ya!

Comments

Popular posts from this blog

Semalam Tahun Baru di Mandarin Oriental Hotel Jakarta (1)

Saham Pertama di 2019

Belajar BIPA di Bali, Yuklah Semangat Yang Militan (4)