bee kha boo -- lebah yang egois ( cerpenku jaman dulu hahaha)



Bee Kha Boo, Lebah Yang Egois


oleh: rike 

Bee Kha Boo adalah anak salah satu anak lebah madu yang selalu menganggap dirinya berbeda dengan yang lain. Bayangkan di saat semua anak lebah membantu saudara-saudaranya memasukkan madu ke dalam pundi-pundi ia  malah duduk di ranting sebuah pohon sambil berkata,” Ah itu semua bisa mereka lakukan bersama. Mengapa harus aku yang ikut bersusah payah melakukannya. Aku sudah pernah dan ku rasa mereka juga tak pernah memperhatikan diriku, ketika aku sedang kelelahan mengisi pundi. Buat apa? Lebih baik aku duduk disini, menatap awan di langit atau mengejutkan ikan- ikan di kali dengan sengatku, itu kan lebih menyenangkan”
Bee Kha Boo juga tak pernah mau menghadiri acara makan bersama para anak lebah, dimana makanan yang tersedia hanya sisa-sisa madu yang sudah tak terpakai, sementara Bee Kha Boo hanya akan muncul makan ketika ratu lebah atau ibundanya sendiri melakukan jamuan makan khusus. Tak heran anak lebah yang satu itu lebih kurus dari lebah lain.” Aku hanya makan makanan mewah. Tak sudi aku makan dengan saudara-saudaraku, apalagi itu hanya madu sisa yang tak bergizi. Itu hanya menambah berat badanku”
Suatu waktu, ratu mempunyai keinginan untuk memperluas rumahnya. ”Aku ingin membuat sebuah rumah di pohon dekat gunung, agar tak banyak manusia mengetahui tempat kita berada. Bisa kah kalian menyelesaikannya dalam waktu satu minggu ini”
“ Oh..Bunda, biarkan kami melakukannya bersama. Kami yakin dapat melakukannya dalam 1 minggu”, jawab anak-anak lebah yang lain bersamaan. Namun tiba-tiba Bee Kha Boo mengacungkan jarinya,” Bunda, tak usah repot-repot. Waktu satu minggu adalah waktu yang lama. Ibunda hanya perlu waktu 3 hari, aku sendirilah yang akan mewujudkannya  dalam 3 hari. Buat apa berlama-lama membuang waktu? Serahkan saja padaku. Bunda kan percaya pada hasil kerjaku kan?”
Wajah anak-anak lebah yang lain sangat tak menyukainya karena hal itu dianggap tak mungkin. Namun karena Ibundanya terkesan dengan pernyataan Bee tentang pembuatan rumah selama dua hari. Jadilah ia mencoba memberi kepercayaan itu pada anaknya itu, menurutnya belum ada selama ini lebah yang selalu bekerja sendiri, ia ingin pula membuat hal itu nyata.” Baik. Kalau kau sanggup menyelesaikannya dalam 3 hari. Aku akan memberimu makan madu khusus supaya tubuhmu kuat dan semua bahan yang kau butuhkan. Tapi ingat, harus selesai dalam 3 hari! Kupercayakan itu padamu”
Esoknya setelah makan madu khusus, mulailah ia membuat rumah itu dari tahap pengambaran letak rumah, susunan ruangan, hingga bahan-bahan yang ia perlukan. Semua ia kerjakan dalam waktu singkat. Ia mondar-mandir dari rumah istana di dekat peternakan ke rumah yang akan di bangun di gunung. Di lain pihak, para saudaranya sedang menikmati hari bersama setelah lelah seharian bekerja. Mereka berkumpul di meja makan sambil membahas soal Bee.
“ Kalian yakin Bee Kha Boo akan bisa menyelesaikannya”
“ Hahahaha… anak seperti itu. Suatu saat pasti akan kena batunya. Ia sungguh sombong. Aku rasa ratu sedang mengetestnya. Sehebat apa dia? Memang semuanya bisa dilakukan sendirian? Hebat betul gak sih? Kita saja membangun rumah ini dahulu perlu waktu 1 bulan. Haahahhaha”
“ Hahahaha… Ya… dia belum merasakannya”
“ Ya sudahlah..kita lihat saja esok kalau memang rumah itu sudah setengah jadi..hahahha”
            Bee Kha Boo terus bekerja sampai ia lupa makan siang dan malam. Ia langsung memulai dengan bagian atas terlebih dahulu, tetapi karena malam makin gulita ia semakin mengantuk, tak tahu bagian mana yang ia siapkan. Ia hilang konsentrasi dan tertidur.
            Paginya ia terbangun dan panik amat sangat, karena ternyata atap rumahnya itu tertiup angin, jadi ia memulainya lagi. Namun ia telah kehabisan bahan. Kemudian ia pulang ke rumah istana, disana ia ditanya oleh saudara tuanya, Bee Kha Soon.” Bagaimana pekerjaanmu? Sudah selesai sampai dimana?”
            Karena gengsi, ia pun menjawab” Tak perlu kau tahu sudah sampai dimana pekerjaanku. Urus saja pekerjaanmu sana”. Bee Kha Soon tak menanggapinya lagi karena malas mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Bee Kha Boo.
            Hari kedua pun berjalan. Ia masih saja membenarkan atap yang berkali-kali tertiup angin. Sampai hari ketiga, ia masih saja membenarkan atap padahal pagi esok ratu akan langsung mendatangi rumah ini, bagaimana mungkin itu terjadi bila sampai detik itu juga hanya atap yang ia perbaiki. Sampai datangnya saudara-saudaranya,” Bee apakah kau perlu bantuan? Kau terlihat letih.”
             Diam sejenak, namun kemudian ia menjawabnya sambil menangis sesunggukkan “ Boleh kah aku jujur pada kalian. Bahwa aku dalam kesulitan dan memerlukan bantuan. Aku sudah berhari-hari tidak makan karena takut pekerjaanku tak akan selesai…aku lelah. Aku butuh banyak tidur. Tolonglah aku, aku malu bila esok ratu melihat rumah ini belum juga jadi.”
            Bukannya langsung membantu. Saudara-saudaranya malah menertawai dirinya.” Kami selalu mengajakmu makan bersama walau madu-madu sisa yang kami makan dianggap bukan barang mewah dan hanya benda tak bergizi olehmu. Tetapi sebenarnya, bukan madu sisanya yang membuat kami kuat. Jiwa kami menjadi kuat karena kami senang tertawa, saling membantu saat suka maupun duka dan kami mencintai saudara-saudara yang lain. Itulah yang sebenarnya ada di acara makan malam bersama kami.
            Kami sejak awal sudah tahu akan seperti ini. Sebenarnya dalam waktu satu hari pun kami dapat menyelesaikannya dengan sempurna namun kami khawatir tak cukup istirahat. Kita pun butuh cukup tidur supaya tubuh tetap kuat.
 Baiklah kami akan membantumu tapi biarkan kami menghubungi saudara-saudara yang lain agar ini malam semua bisa terselesaikan.”
            Sore itu juga berbagai macam jenis lebah datang ke lokasi rumah yang bangun oleh Bee Kha Boo. Ia terkejut, kalau selama ini, bahwa  ia mempunyai banyak sekali saudara dari berbagai macam jenis lebah. Ada yang berpakaian petani, ada yang berpakaian penerbang, ada yang berpakaian tentara, ada yang berpakaian perawat, pokoknya macam-macam. Malam itu semua bekerja dengan giat demi membantu saudara mereka, Bee Kha Boo.
            Pagi hari ketika ayam jago berkokok akhirnya terselesaikanlah rumah mereka. Walau ada perombakan sedikit di sana –sini supaya bangunan menjadi kokoh. Bee Kha Boo merasa menyesal sudah egois selama ini, dimana ia selalu merasa menang sendiri, merasa paling bisa dan merasa paling hebat. Ia belajar bahwa sebuah pekerjaan bila diselesaikan bersama akan menjadi lebih ringan, bahwa istirahat sangatlah penting, bahwa makan bersama bukan hanya membuat senang tapi membuat tubuh jadi bersemangat. Kemana saja ia selama ini.
            Lamunannya terganggu karena datanglah salah satu saudaranya, Bee Kha Mpung,” Hey.. Bee Kha Boo, Kau sudah lihat sekarang bagaimana inti dari kebersamaan itu bukan? Kau tak bisa hidup sendiri di dunia ini, Kau pasti suatu hari membutuhkan orang lain. Seperti juga aku dan saudara-saudara kita yang lain akan tetap membutuhkanmu jadi…mau kah kau malam nanti selepas acara pemotongan pita oleh ratu kita makan bersama di ruang makan yang baru?”
            Bee Kha Boo mengangguk dan tersenyum pada Bee Kha Mpung.
            Di acara makan malam itu Bee Kha Boo disambut baik oleh semua lebah, mereka pun menikmati hidangan madu sisa dengan tawa dan gembira.

Comments